Resume Catatan Anekdot dan Sosiometri


RESUME BIMBINGAN KONSELING
“CATATAN ANEKDOT DAN SOSIOMETRI”




Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu: Fadhilaturrahmi, M.Pd





Disusun Oleh :
RABIATUL WAHYUNI     1686206056









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAHLAWAN TUANKU TAMBUSAI
2017






CATATAN ANEKDOT

A.    Pengertian catatan anekdot
Catatan anekdot merupakan Salah satu alat untuk mengumpulkan data tentang tingkah laku yang diluar dari kebiasaannya . atau suatu catatan yang mencatat peristiwa yang terjadi seketika di luar kebiasaannya.
Catatan anekdot adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan langsung tentang sikap dan perilaku anak yang muncul secara tiba-tiba (peristiwa yang terjadi secara insidental). Anecdotal record(catatan kejadian khusus) merupakan uraian tertulis mengenai perilaku yang ditampilkan oleh anak dalam situasi khusus. Catatan anekdot ditulis dengan singkat.

B.     Ciri-ciri catatan anekdot
Mengutip pendapat Mehrens dan Lehman (1984), Chatterji (2003) menyatakan bahwa catatan anekdot yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Berupa deskripsi singkat peristiwa factual
2.      Catatan tersebut tidak boleh mengandung kesimpulan, pendapat, atau penilaian dari pihak pengamat.
3.      Catatan tersebut harus berisi rekaman tentang critical incident atau kejadian penting terkait si murid.penentuan nilai penting atau kurang pentingnya suatu peristiwa ditentukan oleh tujuan pengamatan.
4.      Hanya sesudah memperoleh rekaman peristiwa dalam jumlah yang dipandang memadai, pengamat boleh membuat kesimpulan tentang adanya pola perilaku tertentu pada objek yang menjadi sasaran pengamatan.

Catatan anekdot terbagi 2:
1.      Catatan anekdot instrumental
Dilakukan diluar kegiatan pembelajaran seperti anak sedang istirahat bermain.
2.      Catatan anekdot periodik
Dilakukan didalam kegiatan pembelajaran seperti ketika anak meronce, menggambar.



C.    Keuntungan menggunakan catatan anekdot untuk pendidik
1.      Pengamatan dapat bersifat terbuka.
2.      Pengamat dapat menangkap hal-hal yang tak terduga pada saat kejadian, pencatatan dilakukan nanti setelah pembelajaran usai, sehingga tidak mengganggu aktivitas guru.
3.      Pengamat dapat melihat dan mencatat tingkah laku khusus dan mengabaikan perilaku yang lain.

D.    Kekuatan dan Kelemahan catatan anekdot
1.      Kekuatan catatan anekdot
a.       Anekdot yang tidak dapat diperoleh melalui pengukuran sistematis ini dapat mencatat peristiwa seketika yang berarti bagi perkembangan siswa.
b.      Hasil pengamatan yang diperoleh bersifat asli dan objektif.
c.       Dapat dipakai untuk memahami siswa dengan lebih tepat.
2.      Kelemahan catatan anekdot
a.       Taraf reliabilitas catatan anekdot rendah.
b.      Menuntut banyak waktu dan kesabaran dalam menanti munculnya suatu peristiwa, yang apabila muncul harus dicatat seketika. Hal ini dapat menggangu perhatian dan tugas guru yang sedang berjalan.
c.       Apabila pencatatan tidak dilakukan seketika, objektivitas catatan bisa berkurang.

E.     Pembuatan format Catatan Anekdot (anecdotal record)
1.      Aplikasi Prosedur Pengadministrasian Catatan Anekdot
Tahap persiapan mencakup langkah-langkah berikut:
a.       Menentukan aspek perilaku observasi yang akan dicatat.
b.      Aspek-aspek perilaku tersebut, misalnya: kerjasama, ketelitian, perkelahian, membolos, membuat gaduh, menyontek, dan sebagainya.
2.      Menentukan bentuk catatan anekdot
Menetapkan bentuk catatan anekdot. Berbagai bentuk catatan anekdot seperti: kartu kecil yang berukuran setengah halaman jenis kertas folio berisi satu peristiwa, Catatan asli merupakan bahan konfidensial, sehingga dipertanggung jawabkan kerahasiaannya. Sedangkan kartu yang berukuran satu halaman jenis kertas folio berisi beberapa peristiwa siswa yang sama.
3.      Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, observer menyiapkan format catatan, kemudian mengambil posisi yang memudahkan proses pencatatan. Selanjutnya observer melakukan pencatatan terhadap perilaku khusus observi dan diusahakan agar ia tidak menyadari jika sedang diamati.
4.      Tahap Analisis Hasil
Tahap analisis hasil berupa pemberian komentar/interpretasi observer terhadap perilaku observi pada suatu kejadian berdasarkan hasil pencatatan.

Beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi : Hal-hal dan cara pencatatan hasil penilaian harian dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
Catatlah hasil penilaian perkembangan anak pada kolom penilaian di rencana kegiatan harian (RKH). Ada tiga kelompok anak yang perlu dicatat, kelompok pertama, yaitu: anak yang belum mencapai atau melakukan/menyelesaikan pekerjaan masih selalu dibantu guru, kelompok kedua, yaitu: anak yang sudah atau mampu melakukan/menyelesaikan tugas tanpa bantuan guru secara tepat, cepat, dan benar, dan kelompok ketiga, yaitu: anak yang menunjukkan kemampuan melebihi indikator-indikator yang diharapkan dalam RKH.
Simbol yang digunakan untuk mencatat tingkat pencapaian anak untuk setiap indikator adalah sebagai berikut:
Anak yang selalu dibantu guru dalam melakukan/menyelesaikan tugas-tugas sesuai indikator seperti yang diharapkan dalam RKH, maka pada kolom penilaian dituliskan tanda lingkaran kosong (O) pada nama anak bersangkutan.
Anak yang sudah atau mampu melakukan/menyelesaikan tugas tanpa bantuan guru secara tepat, cepat, dan benar sesuai dengan indicator seperti yang diharapkan dalam RKH, maka pada kolom tersebut dituliskan nama anak dan tanda lingkaran berisi penuh. Anak yang menunjukkan kemampuan sesuai dengan indikator yang tertuang dalam RKH, diberi dengan tanda ceklis.


CONTOH CATATAN ANEKDOT
SATUAN LAYANAN PENDUKUNG
HIMPUNAN DATA (CATATAN ANEKDOT)

SAAT MENGIKUTI BIMBINGAN KLASIKAL
INFORMASI NARKOBA

Nama Siswa
:
Fr
Hari, tanggal
:
Rabu, 24 Oktober 2012
Kelas
:
XI
Jam
:
11.00 – 11.45 WIB

Deskripsi :
            Saat dilaksanakan bimbingan klasikal, siswa duduk dengan menunduk, kepala diletakkan di atas kedua tangan di meja selama ± 3 menit. Hal itu dilakukan selama 2 kali. Siswa juga terlihat memainkan ballpoint dengan diputar-putar di jari-jarinya dan beberapa kali terlihat siswa melihat ke arah luar jendela. Siswa jarang memandang konselor. Siswa tidak bereaksi ketika konselor memberi pertanyaan ataupun tanggapan kepada seluruh siswa.

Intepretasi :
            Siswa tidak konsentrasi. Kemungkinan siswa sedang memiliki masalah yang belum terselesaikan.

Tindak lanjut :
            Siswa perlu mendapatkan konseling.
Semarang, Oktober 2012
Guru Pembimbing,



Nugrahaning Dyah Respati, S.Psi.
NIP. 19710323 200212 2 005



SOSIOMETRI

A.    Pengertian Sosiometri
Sosiometri merupakan metode pengumpulan data tentang pola struktur hubungan antara hubungan antara individu-individu dalam suatu kelompok. Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Moreno dan Jenning. Metode ini didasarkan pada pemikiran bahwa kelompok mempunyai struktur yang terdiri dari hubungan-hubungan interpersonal yang kompleks.
Yang diselidiki melalui metode ini adalah status sosial masing-masing anggota kelompok menurut pandangna pribadi anggota yang lain dalam kelompok. Status sosial itu tercermin dalam diterima atau tidak diterima oleh angota-anggota kelompok.  Posisi setiap individu dan hubungan-hubungan yang terjadi dalam struktur kelompoknya dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengolahan sosiometri akan diperoleh gambaran jumlah skor yang diperoleh setiap orang, pola hubungan, intensitas hubungan, dan posisi peserta didik dalam kelompoknya.

B.     Tujuan Teknik Sosiometri
Tujuaan dari teknik sosiometri adalah:
1.      Mengassesment hubungan interpersonal; menggali data tentang pola hubungan antar pribadi yang mengindikasikan kulaitas tertentu.
2.      Mendeteksi perilaku sosial yang ‘incongruen’, sehingga kesehatan mental individu dapat diindentifikasi. Termasuk dapat pula dipakai sebagai salah satu sumber diagnosa kesulitan belajar dan berbagai macam persoalan lain.

C.    Jenis-jenis Pengukuran Sosiometri
Dalam sosiometri terdapat 2 jenis pengukuran sosiometri, yaitu:
1.      Kriteria Khusus
yaitu mengukur sikap dan perasaan terhadap anggota lain dalam kelompok dalam situasi tertentu. Misalnya: teman yang diinginkan sebagai partner diskusi; teman yang diinginkan saat berekreasi.



2.      Kuisioner
yaitu mengukur sikap dan perasaan terhadap anggota lain tetapi bukan dalam situasi khusus. Ohio Social Acceotable Scale adalah contoh kuisioner sosiometri dalam segala situasi dengan 6 tingkat penerimaan, yaitu:
a.       Sahabat yang baik (very, very best friend)
b.      Teman biasa (my other friend)
c.       Bukan teman tetapi masih berhubungan baik (not friend, but ok)
d.      Saya tidak kenal mereka (i don’t know them)
e.       Saya tidak memperdulikan mereka (i don’t care for them)
f.       Tidak saya sukai (i hate them)

D.    Syarat Pengoperasian Sosiometri
Syarat untuk melakukan metode sosiometri adalah:
1.      Setiap anggota kelompok harus memahami situasi kriterium/aktivitas khusus yang dijadikan ‘tema’ pengukuran sosiometrik. Untuk membantu pemahaman semua anggota kelompok, pertanyaan sosiometrik harus jelas dan aplikable, sehingga anggota dapat benar-benar terlibat dalam pengukuran kualitas kelompok dengan teknik sosiometri. Pengukuran ini memakai kriterium (aktivitas kelompok) yang jelas dan familiar bagi anggota kelompok.
2.      Anggota kelompok harus sudah saling mengenal sehingga dapat merefleksikan sikap dan perasaan tertentu yang selama ini cenderung dialami terhadap anggota kelompok. Semakin lama individu yang diukur dengan sosiometri memiliki pengalaman berinteraksi dalam kelompok, hasil pengukuran dengan sosiometri semakin bermakna (berkualitas).
3.      Semakin dewasa usia individu yang diukur dengan sosiometri hasilnya akan cenderung semakin reliable (konsisten) dan valid (sesuai kriteria) sebab semakin dewasa kecenderungan preferensi individu terhadap sesuatu semakin menetap.
4.      Anonim: yaitu hasil pilihan setiap orang tidak boleh diketahui oleh anggota kelompok yang lain untuk menjaga kondisi psikologis anggota kelompok. Jika individu tahu bahwa ia adalah orang yang terisolir atau bahkan ditolak di kelompok, akan menimbulkan dampak psikolgis yang buruk.


E.     Bentuk Hubungan dalam Sosiometri
Berdasarkan hasil sosiogram dapat diperoleh beberapa bentuk hubungan, yaitu:
1.      Hubungan sosial segitiga,
menggambarkan intensitas hubungan tiga orang individu yang cukup kuat atau intim.
2.      Hubungan sosial terpusat,
menggambarkan tingkat popularitas seorang individu dalam kelompoknya.
3.      Hubungan sosial intim,
menggambarkan hubunga beberapa orang yang saling memilh satu dengan yang lain dengan intensitas hubungan yang kuat.
4.      Hubungan sosial berbentuk jala,
menggambarkan pola relasi yang bersifat menyeluruh di mana setiap anggota saling saling berelasi. Bentuk hubungan ini memiliki intensitas yang kuat, seluruh kelompok sebagai satu kesatuan yang sukar untuk dipisahkan dan ketidakhadiran seseorang dalam kelompok tidak akan menyebabkan perpecahan atau kerapuhan suatu kelompok.
5.      Hubungan berbentuk rantai,
menggambarkan pola hubungan searah atau sepihak dan tidak menyeluruh. Intensits hubungan rendah, sehingga relasi kelompok mudah rapuh.

F.     Macam/Jenis Angket Sosiometri
1.      Nominatif
Pada tipe ini kepada setiap individu dalam kelompok ditanyakan, siapa-siapa kawan yang disenangi/tidak disenangi untuk diajak melakukan suatu aktivitas tertentu. Pilihan harus ditulis berurutan dari pilihan pertama (paling disenangi), pilihan kedua, ketiga,dst. Pilihan pertama diberi skor 3, kedua diberi skor 2, ketiga diberi skor 1.
Hasil pengukuran angket sosiometri nominatif diperoleh data sebagai berikut:
a.       Luas tidaknya hubungan sosial seseorang berdasarkan sedikit banyaknya mendapat pilihan dari teman-temannya.
b.      Intensitas hubungan seseorang berdasarkan nomor urutan pilihan yang ditujukan padanya.
c.       Struktur hubungan yang terjadi dalam kelompok (sosiogram)
d.      Status hubungan (analisis indeks) pemilihan, penolakan, atau status pemilihan dan penolakan.
2.      Skala bertingkat
Pada tipe skala bertingkat, disediakan sejumlah pernyataan yang disusun bertingkat, dari pernyataan yang menyatakan hubungan paling dekat, sampai hubungan paling jauh. Pada setiap pernyataan, individu diminta menuliskan nama salah seorang teman nya sesuai jarak hubungannya. Pilihan pertama diberi skor 2, kedua skor 1, ketiga skor 0, keempat skor -1, kelima skor -2. Hasilnya diperoleh gambaran status hubungan sosial setiap individu.
3.      Siapa Dia
Tipe sosiometri siapa dia, disediakan pernyataan tentang sifat-sifat individu. Sebagai pernyataan mengungkapkan sifat positif dan sebagian negatif. Setiap anggota diminta memilih kawannya yang memiliki sifat yang cocok dengan pernyataan tersebut. Setiap individu dapat memilih lebih dari satu orang. Pilhan item (+) mendapat skor 1, item (-) mendapat skor -1.

G.    Langkah Penyusunan Angket Sosiometri
Sebelum melaksanakan proses asesmen pada pelaksanaan bimbingan dan konseling, guru pembimbing perlu mempersiapkan dahulu alat asesmen yang akan digunakan. Pada penggunaan angket sosiometri, guru pembimbing perlu menyusun angket sosiometri sendiri dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1.      Menetapkan tujuan penggunaan angket sosiometri merupakan langkah awal yang penting dilakukan guru pembimbing agar dapat menetapkan tipe angket sosiometri yang apa tepat dan sesuai dengan tujuan yang di tetapkan. Bila tujuannya untuk menetapkan pemilihan anggota kelompok berdasarkan kedekatan maka pembimbing menggunakan tipe angket sosiometri skala bertingkat. Bila peserta didik menetapkan pemilihan anggota kelompok berdasarkan tingkat nominasinya maka guru pembimbing menggunakan tipe angket sosiometri nominatif. Akan tetapi bila meminta anggota kelompok untuk mengenali karakteristik pribadi atau sifat anggota kelompok maka guru pembimbing menggunakan angket sosiometri tipe siapa dia.
2.      Menyusun angket sosiometri sesuai dengan pilihan tipe yang ditetapkan sesuai tujuan pelaksanaan asesmen. Hal penting dalam menyusun angket adalah merumuskan pertanyaan atau pernyataan yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Apabila memilih angket soiometri nominatif, maka guru pembimbing menetapkan pernyataan sesuai dengan data apa yang akan dikumpulkan dari peserta didik. Apabila memilih angket sosiometri skala bertingkat, maka guru pembimbing menetapkan pernyataan dengan memperhatikan tingkatan pendekatan hubungan yang ingin diketahui dari peserta didik di dalam kelompoknya. Sedangkan bila menggunakan angket sosiometri siapa dia, maka guru pembimbing harus secara hati-hati menetapkan karakteristik pribadi atau sifat-sifat yang ingin diketahui dari peserta didik dikelasnya. Sebaiknya ditetapkan karakteristik atau sifat-sifat pribadi yang positif sehingga peserta didik belajar untuk memandang orang lain secara positif dan mampu mengenali kekuatan yang dimiliki setiap anggota kelompok dikelasnya. Sedangkan konselor dengan mengenali berbagai potensi positf yang dimiliki peserta didik, akan mendorong sikap optimis dalam merencanakan dan melaksanakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

H.    Langkah Pengadministrasian
Tahapan yang harus dilakukan dalam pengadministrasian penggunaan angket sosiometri pada peserta didik memiliki beberapa tahapan yang perlu dilakukan, yaitu sebagai berikut.
1.      Persiapan
a.       Menetapkan kelompok peserta didik yang akan diukur
b.      Mempersiapkan angket sosiometri sesuai tujuan
c.       Membuat satuan layanan asesmen
2.      Pelaksanaan
a.       Memberikan verbal seting (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data)
b.      Membagikan angket sosiometri
c.       Menjelaskan cara mengerjakannya
d.      Memeriksa apakah sudah benar mengisinya
e.       Mengumpulkan kembali angket setelah selesai diisi
3.      Pengolahan dan Analisis Hasil
a.       Memeriksa kelengkapan hasil angket
b.      Membuat tabulasi hasil dan menghitung skor yang diperoleh setiap individu
c.       Membuat sosiogram berdasarkan hasil tabulasi skor
d.      Menghitung indeks pemilihan
e.       Membuat analais hubungan sosial dari hasil sosiogram dan perolahan skor individu.

I.       Langkah Pengolahan dan Analisis
1.      Memeriksa kelengkapan hasil angket
Konselor melakukan pengecekan pada angket yang telah diisi peserta didik untuk melihat kelengkapan data pribadi dan kelngkpan jawaban yang dibuat peserta didik, sehingga datany memiliki kelayakanuntuk dioleh dan dianalisis.
2.      Membuat tabulasi hasil dan menghitung skor yang diperoleh
Kriteria penetapan skor sangat ditentukan oleh jenis sosiometri yang digunakan (tipe normatif, bertingkat,dan tipe siapa dia). Setelah diberi skor, konselor membuat tabulasinya, sehingga dapat mudah terlihat berapa besar jumlah skor yang diperoleh setiap peserta didik.
3.      Membuat sosiogram
Sosiogram dibuat berdasarkan hasil tabulasi yang dibuat berdasarkan urutan pemilihan setiap anggota kelompok kepada anggota lainnyadalam kelompok tersebut. Sosiogram dibuat untuk mempermudah melihat arah hubungan, intensitas hubungan, bentuk hubungan, dan posisi peserta dalam kelompoknya apakah popular atau terisolir..
4.      Melakukan analisis hasil sosiogram
a.       Membuat analisis hubungan sosial dari hasil sosigram dan perolehan skor individu. Berdasarkan contoh tabulasi dan sosiogram yang disajikan, bentuk hubunga yang terjadi adalah sebagai berikut:
Segitiga                       E – F – D – E
Terpusat                       A, B, E, D        F
Intim                            E – F – D; A – C ; A – E saling memilih (panah bolak balik)
Jala                               Semua saling memilih (tidak ada)
Rantai                          C – A – F – D
Populer                        F
Terisolas                       B

b.      Mengitung indeks pemilihan
Indeks pemilihan merupakan suatu angka yang menunjukkan tinggi rendahnya pemilihan terhadap diri seseorang di dalam interaksi kelompoknya. Populer dan terisolirnya sesorang dalam kelompokya dapat diketahui dari besar kecilnya status pemilihan. Sedangkan penolakan seseorang di dalam kelompoknya dapat dilihat dari besar kecilnya indeks penolakan.
Penghitungan status pemilihan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
                 Keterangan :
                 N    = Jumlah anggota dalam kelompok
                         = Indeks status pemilih subjek ke-n
                 Indeks             Pm = 0 berarti tidak ada yang memilih (terisolasi)
                 Indeks Pm = 1 berarti semua anggota memilih (populer)
                 Indeks pemilihan bergerak dari 0 sampai 1

Penghitungan status penolakan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
                                                                      
                 Keterangan :
                 N    = Jumlah anggota dalam kelompok
                 = Indeks status penolakan subjek ke-n
                 Indeks             Pm = 0 berarti tidak ada yang menolak (populer)
                 Indeks Pm = 1 berarti semua anggota memilih (terisolasi)
                 Indeks penolakan bergerak dari -1 sampai 0

Penghitungan status pemilihan dan penolakan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
                                                     
                 Keterangan :
                 N            = Jumlah anggota dalam kelompok
                  =Indeks status pemilih dan penolakan subjek ke-n
                 Indeks             Pm Pn = +1 berarti semua memilih (populer)
                 Indeks Pm = 1 berarti semua anggota menolak (terisolasi)
                 Indeks penolakan bergerak dari -1 sampai +1

c.       Menginterpretasi hasil sosiometri
Setelah data pada angket sosiometri ditabulasi, kemudian disajikan dalam bentuk sosiogram. Hal-hal yang dapat ditemukan dalam sosiogram:
1)      Apakah terdapat banyak pilihan searah atau dua arah (saling memilih)
2)      Apakah terdapat banyak pilihan antara peserta didik ataukah hanya sedikit.
3)      Apakah ada kelompok yang cenderung bersifat tertutup karena banyak terdapat saling memilih sebagai pilihan pertama dan kedua (klik).
4)      Apakah ada peserta didik yang tidak mendapat pilihan sama sekali (terisolir) atau hanya sedikit pilihan, apalagi pilihan ketiga saja (terabaikan).
5)      Apakah ada peserta didik yang mendapat banyak pilihan, apalagi sebagai pilihan pertama. Subjek ini dapat dianggap populer dalam kelompoknya, tetapi hanya dalam rangka kegiatan yang menjadi kriterium.

J.      Kelebihan dan Kekurangan Sosiometri
1.      Kelebihan dari sosiometri adalah
a.       Konselor memiliki peluang untuk memahami bentuk hubungan sosial yang terjadi antara peserta didik yang dibimbingnya, dengan melihat bagaimana frekuensi hubungan yang terjadi, bagaimana intensitas atau kedalaman hubungan yang terjadi, bagaimana posisi popularitas peserta didik dalam kelompoknya, maupun bagaimana posisi peserta didik yang terisolasi.
b.      Informasi tentang fungsi individu dalam kelompok yang dihasilkan oleh sosiometri objektif sebab bersumber dari banyak individu.
c.       Dengan memanfaatkan hasil sosiometri, konselor memiliki peluang untuk melakukan beberapa proses bimbingan untuk memperbaiki hubungan peserta didik dalam kelompoknya antara lain :
1)      Memperbaiki struktur hubungan sosial kelompok
2)      Memperbaiki penyesuaian sosial individu
3)      Mempelajari akibat proses pendidikan disekolah terhadap hubungan sosial peserta didik.
4)      Mempelajari mutu kepemimpinan dala berbagai situasi
5)      Menemukan norma pergaulan antara peserta didik yang diinginkan dalam kelompok.
2.      Kekurangan dari sosiometri adalah
a.       Hanya dapat diterapkan pada kelompok peserta didik yang sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama.
b.      Akurasi data penggunaan sosiometri yang sesuai tujuan sangat ditentukan oleh kemampuan guru pembimbing dalam menyusun angket sosiometri.
c.       Peserta didik tidak mudah untuk menetapkan pilihan teman, menetapkan intensitas hubungan yang selama ini terjadi, maupun saat menetapkan kriteria pribadi/sifat-sifat anggota kelompok dikelasnya. Mengingat peserta didik umumnya cenderung memilih anggota kelompok bukan atas dasar pertimbangan dengan siapa mereka berhasil dalam melakukan kegiatan dlm kelompok, melainkan lebih didasarkanpada pertimbangan rasa simpati dan rasa antipati

K.    Peran dan Fungsi Konselor
Pada proses asesmen menggunakan sosiometri, konselor memiliki peran dan fungsi sebagai :
1.      Perencana, yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, pembuatan angket sosiometri, menetapkan peserta didik sebagai sasaran asesmen, dan membuat suatu layanan asesmen sosiometri.
2.      Pelaksana, yaitu memberikan verbal setting (menjelaskan tujuan,manfaat,dan kerahasiaan data), memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan benar.
3.      Melakukan pengolahan mulai dari membuat tabulasi, sosiogram, mengitung indeks pemilihan, hingga melakukan analisis hasil.
4.      Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.


Related

Materi Kuliah S1 PGSD 7717955466667306202

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

item